“Merdeka untuk merdeka”

Mendengar kata “merdeka” mungkin yang pertama kali kita pikir adalah 17 Agustus, atau berfikir tentang perjuangan para pahlawan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kedua pikiran itu memang benar, ketika memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus kita secara tidak langsung juga mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan para pahlawan akhirnya Indonesia pun bebas dari penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun itu dan Indonesia MERDEKA!

Ketika kita menengok kebelakang, memang sangatlah besar perjuangan para pahlawan Indonesia dan banyak sekali pengorbanan yang dilakukan dan banyak korban jiwa. Itu semua dilakukan semata-mata demi kemerdekaan Indonesia, supaya Indonesia dapat menentukan pilihannya, jalan hidupnya dan apapun sesuai dengan bangsa dan keinginan rakyat Indonesia.

Indonesia berjuang untuk merdeka, dan merdeka untuk benar-benar merdeka! Merdeka dari penjajahan yang membelenggu Indonesia selama ini, merdeka untuk menentukan pilihan, merdeka untuk berbudaya, merdeka untuk beraspirasi, berkreasi dan masih banyak lagi. Ketika masih pada masa penjajahan Belanda kita merdeka atas penjajahan Belanda, namun coba kita lihat kemerdekaan yang kita punya. Saat ini bukan merdeka yang kita miliki, karena masih banyak penjajahan yang terjadi disekitar kita. Bukan penjajahan seperti Belanda ataupun Jepang, namun penjajahan yang tak ‘terlihat’.

Lihat saja, disekitar kita masih banyak warga yang terjajah oleh kemiskinan, masih banyak warga Indonesia yang terjajah oleh kebodohan. Selain itu, masih banyak rakyat kecil yang terjajah oleh orang-orang yang berkuasa, yang besar dan duduk di kursi perwakilan. Persamaan hukum yang ada di dalam UUD’45 tidak diamalkan dengan baik, contohnya saja seorang yang mencuri sandal ataupun buah coklat dihukum lebih lama dari pada pegawai/pemerintah yang berkorupsi milyaran rupiah. Hal ini terjadi karena orang yang memiliki kekuasaan bisa menyuap atau bermain belakang dengan pegawai pengadilan, sedangkan orang kecil?! uang untuk makan saja sulit bagaimana mau menyuap??

Selain itu, banyak warga miskin yang tidak mampu membiayai sekolah anaknya sehingga mereka menjadi kurang dalam hal pendidikan. Sebenarnya pemerintah sudah memberikan kebijakan kepada warga yang tidak mampu untuk mendapatkan bantuan supaya anak-anak mereka tetap sekolah, namun terkadang uang yang harusnya untuk warga malah entah kemana! Mungkin malah masuk kantong para pemerintah. Dan terpaksa banyak anak putus sekolah karena tidak mampu.

Kita tengok kebelakang sebentar, sewaktu pemerintahan Soeharto etnis Cina dilarang melakukan atau merayakan hari besar mereka dan ketika pemerintahan Gus Dur, etnis Cina pun diperbolehkan untuk bebas merayakan hari besar mereka. Bahkan hari besar mereka dijadikan libur nasional. Itu merupakan contoh merdeka/bebas yang sangat bagus. Rakyat pun bisa saling bersosialisasi satu sama lain dan saling bertoleransi. Namun, sekarang…masih banyak warga yang tidak bebas bersosialisasi dan bertoleransi karna berbagai aspek, seperti aspek agama, suku dan lain sebaiganya. Masih banyak warga yang kurang bebas beraspirasi dan berbudaya, bahkan ada yang terlalu bebas beraspirasi. Contohnya mahasiswa yang berdemo namun demonstrasi mereka diluar kendali.

Melihat masih banyak hal yang tidak sesuai dengan kemerdekaan diIndonesia, kita sebagai kaum muda harus bisa menjadi generasi baru yang menciptakan kemerdekaan yang benar-benar merdeka. Kita harus bisa memperbaiki bangsa Indonesia dengan mengamalkan Pancasila dan norma-norma yang ada serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Memerdekakan diri dari kebodohan dan kemiskinan dengan giat belajar dan berusaha. Kita sebagai generasi baru bebas untuk beraspirasi, berbudaya, dan bebas untuk menentukan pilihan dan kita memiliki persamaan derajat didepan hukum, namun itu semua harus sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Kita bangsa yang merdeka dan kita harus bisa benar-benar merdeka demi masa depan bangsa dan masa depan kita sendiri!

Freedom for Freedom!! cheers!

A town mouse and a country mouse

A town mouse visits a country mouse. “What a nice house!” he says. But he thinks, “This house is just a hole. It’s ugly!”

He is served corn. He says, “What a nice food” But he thinks, “This is poor food! I cannot live like this!”

The country mouse visits the town mouse. He says, “What a nice house!”

The town mouse says “Thank you. Come and eat. You can have cheese, sausages, you can have meat, bread, cake…”

Suddenly..#noisy#

“What’s that noise?” says the country mouse. “Quick, it’s people! Let’s run!” says the town mouse.

They run and hide in a little hole. The country mouse is scared. It runs away…back to the country house.


#Kids talk 4, pg. 48#

Rasa memberi Warna

Hidup ini sangat menyenangkan, banyam rasa yang bisa kita alami dan kita rasakan. Dari rasa sedih, senang, kecewa, marah dan masih banyak lagi.

Ketika merasa sedih, dunia rasanya tidak adil, kejam, suram dan waktu terasa lama.

Sedangkan ketika merasa senang rasanya dunia ini sangat indah, semuanya menyenangkan dan kita terkadang tidak sadar kalau waktu telah berlalu sangat cepat.

Ketika kita marah pun, rasanya terasa panas dan ngga enak banget.

Masih banyak rasa yang kita miliki. Dan disini yang ingin aku katakan adalah rasa membawa warna dalam hidup kita.